Arsip | Agama Islam RSS feed for this section
Sampingan

MEMBACA AL-QUR’AN

16 Jun

Kelebihan Orang yang Membaca dan Memuliakan Al Quran

http://feedproxy.google.com/~r/madani/~3/xr09FW6y4eg/?utm_source=feedburner&utm_medium=email

Ibnu Mas’ud Al Anshari Al Badri Radhiyallahu ‘Anh meriwayatkan dari Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sabdanya, “Orang yang paling berhak menjadi
imam dari suatu kaum adalah orang yang terpandai membaca Kitab Allah
diantara mereka. Jika mereka sama taraf dari segi bacaan. maka yang lebih
mengetahuai tentang sunnah.” (HR Muslim)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anh, katanya, “Adalah para
pembaca Al Qur’an hadir di majelis Umar Radhiyallahu ‘Anh bermusyawarah
dengannya, terdiridari orang tua dan pemuda.” (Riwayat Al Bukhari dalam
Shahih-nya)

Setelah ini insya-Allah , saya akan mengemukakan hadits-hadits yang masuk
dalam Bagian ini. Ingatlah bahwa madzhab yang shahih dan terpilih yang
diambilkan para ulama ialah bahwa membaca Al-Qur’an adalah lebih utama dari
membaca tasbih dan tahlil serta dzikir-dzikir lainnya. Banyak dalil kuat
yang mendukung hal itu, Wallahua’lam.

Menghormati dan Memuliakan Golongan Al Qur’an

Allah Azza wa Jalla telah berfirman, “Dan barangsiapa mengagungkan
syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati. (QS
Al-Hajj 22:32)

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang
terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi
Tuhannya.” (QS Al-Hajj 22:29)

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu
orang-orang yang beriman (mukmin).” (QS Asy-Syu’araa’ 26:215)

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa
kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul
kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS Al-Azhab 33:58)

Dalam bagian ini terdapat hadits Ibnu Mas’ud Al Anshari dan hadits Ibnu
Abbas yang telah disebut di atas.

Diriwayatkan dari Abu Musa Al Asy’ari Radhiyallahu ‘Anhu, katanya:
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya termasuk
menggagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah memuliakan orang tua yang
Muslim dan pengkaji Al-Qur’an yang tidak melampau batas dan tidak
menyimpang dari padanya serta memuliakan penguasa yang adil.” (Riwayat Abu
Dawud dan ia hadits hasan)

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anhu katanya, “Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh kami menempatkan orang-orang dalam
kedudukan mereka.” (Riwayat Abu Dawud dalam sunnannya dan Al-Bazzar dalam
Musnadnya. Abu Abdillah Al-Hakim berkata dalam Ulumul hadits, dia hadits
sahih).

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu, “Sesungguhnya Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengumpulkan antara dua orang korban perang
Uhud, kemudian berkata, ‘Siapa yang lebih banyak hafal Al Qur’an di antara
keduanya, beliau mendahulukannya masuk ke liang lahat.” (Riwayat Al Bukhari)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, “Diriwayatkan dari Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman,
’Siapa yang yang mengganggu wali-Ku, maka Aku telah menyatakan perang
kepadanya.” (Riwayat Al Bukhari)

Diriwayatkan dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari Nabi Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam bahwa baginda bersabda,  “Barangsiapa shalat Subuh, maka
dia berada dalam jaminan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh sebab itu jangan
sampai kamu dituntut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala atas sesuatu dari
jaminan-Nya.”

Diriwayatkan dari dua imam yang agung yaitu Imam Abu Hanifah dan Imam Asy
Syafi’i Rahimahullah, keduanya berkata: “Jika para ulama bukan wali Allah
Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak punya wali.”

Imam Al Hafizh Abu Qasim Ibnu Asakir rahimahullah berkata: “Ketahuilah
wahai saudaraku mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan
keridhaan-Nya bagi kita dan menjadikan kita termasuk orang yang takut dan
bertaqwa kepada-Nya dengan taqwa yang sebenarnya bahwa daging para ulama
itu beracun, kebiasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menyingkap tabir
para pencela akan terlihat dengan sendirinya. Dan siapa melecehkan para
ulama, Allah Subhanahu wa Ta’ala menimpakan bencana atasnya sebelum
kematiannya dengan kematian hati.”

Allah berfirman, “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya,
takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS An-Nur 24:63)

Imam An Nawawi

Iklan
Sampingan

Konsultasi Syariah : Haramkah Ramalan Cuaca? …

11 Mei

Ramalan Cuaca Haram?

http://www.konsultasisyariah.com/ramalan-cuaca-haram/

Hukum Meyakini Ramalan Cuaca

Pertanyaan:

Assalamualaykum,
ustad terkadang saya merasa bingung dengan fenomena ramalan. Kan memang aturan dalam islam percaya pada ramalan itu dosa dan diharamkan, apakah sama hukumnya dengan ramalan yang berkaitan kasus ramalan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan gerhana matahari cincin
(GMC) akan terjadi pada 9-10 Mei 2013 atau ramalan cuaca setiap hari??
mohon penjelasannya jazakallah
Dari: Puji, Surabaya

Jawaban:

Wa alaikumus salam
Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Salah satu diantara sebab kesalah-pahaman dalam membaca adalah kurang bisa memahami istilah. Terlebih istilah yang ambigu. Sebagian orang memahami sesuatu istilah tidak sebagaimana konteksnya. Salah satu contohnya adalah ramalan. Bisa kita nyatakan, kata ini termasuk ambigu. Bisa digunakan dalam banyak kalimat dengan konteks yang berbeda. Seperti ramalan cuaca dan ramalan paranormal, jelas konteksnya berbeda. Karena masing-masing
disimpulkan dari cara yang berbeda.

Terkait hukum ramalan cuaca, Imam Ibnu Utaimin memberikan beberapa catatan yang perlu digaris bawahi,
Pertama, Rincian keterangan tentang turunnya hujan termasuk ilmu ghaib (informasi yang hanya diketahui oleh Allah). Allah berfirman,
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ
مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا
تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

“Sesungguhnya Allah, hanya miliknya informasi kapan kiamat, dia yang menurunkan hujan, dan dia mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Tidaklah satupun jiwa mengetahui apa yang akan dia lakukan besok, dan tidak ada satupun jiwa dimana dia akan mati..” (QS. Luqman: 34)

Untuk itu, siapa yang mengklaim mengetahui hal yang ghaib, termasuk mengaku mengetahui kapan hujan turun, berapa jumlahnya, dst. maka dia telah
melakukan perbuatan kekafiran, karena mendustakan firman Allah,
قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Katakanlah, tidak ada satupun di langit dan dibumi yang mengetahui hal ghaib, kecuali Allah. (QS. An-Naml: 65).

Kedua, Menggunakan Indikator lahiriyah, bukan termasuk menebak ilmu ghaib

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,
وأما من أخبر بنزول مطر أو توقع نزول مطر في المستقبل بناءً على ما تقتضيه
الآلات الدقيقة التي تقاس بها أحوال الجو فيعلم الخبيرون بذلك أن الجو مهيأ
لسقوط الأمطار فإن هذا ليس من علم الغيب بل هو مستند إلى أمر محسوس والشيء
المستند إلى أمر محسوس لا يقال إنه من علم الغيب

Menyampaikan informasi tentang turunnya hujan atau perkiraan turunnya hujan pada beberapa waktu berikutnya, berdasarkan hasil penelitian dengan alat canggih, untuk memprediksi kondisi cuaca, sehingga ahli meteorologi bisa
menyimpulkan bahwa cuaca mengarah pada turunnya hujan. Informasi semacam ini, tidak termasuk ilmu ghaib. Namun dia mengacu pada indikator lahiriyah.
Dan semua kesimpulan yang mengacu pada indikator lahiriyah, tidak bisa disebut bahwa itu ilmu ghaib.

Beliau melanjutkan,
والتنبؤات التي تقال في الإذاعات من هذا الباب وليست من باب علم الغيب ولذلك
هم يستنتجونها بواسطة الآلات الدقيقة التي تضبط حالات الجو وليسوا مثلاً
يخبرونك بأنه سينزل مطر بعد كذا سنة وبمقدار معين لأن هذه الوسائل الآلات لم
تصل بعد إلى حدٍ تدرك به ماذا يكون من حوادث الجو بل هي محصورة في ساعات معينة
ثم قد تخطئ أحياناً وقد تصيب أما علم الغيب فهو الذي يستند إلى مجرد العلم فقط
بدون وسيلة محسوسة وهذا لا يعلمه إلا الله عز وجل

Informasi yang disampaikan di radio tentang perkiraan cuaca bukan termasuk
mengetahui ilmu ghaib. Karena itulah, mereka hanya bisa mendapatkan info tentang prediksi cuaca, dengan alat canggih yang bisa mengukur kondisi cuaca. Mereka juga tidak mampu, misalnya memberitahukan akan turun hujan setelah sekian tahun dengan curah tertentu. Karena alat yang mereka gunakan tidak mampu menjangkau keadaan yang bisa mengetahui semua kondisi cuaca.
Alat ini hanya terbatas untuk waktu tertentu. Itupun kadang meleset,
meskipun kadang juga benar. Adapun ilmu ghaib adalah mengetahui sesuatu yang ghaib yang bersandar pada pengetahuan yang dimiliki, tanpa menggunakan
indikator lahiriyah. Dan semacam ini tidak ada yang tahu kecuali Allah.

Sumber: http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1716.shtml

Untuk itu, mungkin istilah yang lebih tepat, agar tidak menimbulkan
kesalah-pahaman, prakiraan cuaca atau prediksi cuaca, dan bukan ramalan cuaca. Karena realita yang ada, BMG hanya menyampaikan prediksi, sehingga orang bisa merencanakan agenda aktivitasnya. BMG tidak pernah memaksakan
orang lain untuk membenarkan informasi yang dia sampaikan. Karena mereka memahami, itu hanya prediksi.
Nuansa ini jelas berbeda dengan ramalan dukun, yang dilakukan tanpa
menggunakan indikator lahiriyah apapun, dan oleh pengikutnya dipercaya sampai pada tingkat yakin, tanpa interupsi. Kasus kedua inilah yang bermasalah, dan bahkan termasuk perbuatan kekafiran.

Allahu a’lam

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina http://www.KonsultasiSyariah.com)

Sampingan

Konsultasi Syariah : Hukum Suami Mengungkit Nafkah Istri

5 Mei

Hukum Suami Mengungkit Nafkah Istri.

http://www.konsultasisyariah.com/hukum-suami-mengungkit-nafkah-istri/

Suami Mengungkit Nafkah Istri

Pertanyaan:
Assalamualaikum Ustadz.

Saya mendapat titipan pertanyaan dari teman. Dia menanyakan tentang boleh tidaknya seorang suami mengungkit-ungkit atau menghitung-hitung apa yang telah dia nafkahkan atau berikan kepada anak dan istrinya. Mohon bantuan dari ustadz untuk memberikan referensi semacam tulisan ilmiah lengkap dengan dalilnya atau dalil yang mendukung dalam Alquran dan hadis, karena teman saya meminta demikian, nantinya akan saya sampaikan kepada teman saya yang bertanya tersebut.

Jazakallah.
Dari: Fajar

Jawaban:
Wa’alaikumussalam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Pertama, nafkah keluarga adalah kewajiban suami diberikan kepada istri dan anaknya. Allah berfirman,
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Kewajiban bagi para kepala keluarga untuk memberikan rizki (nafkah) kepada para istrinya dan memberi pakaian mereka dengan cara yang baik.” (QS.
Al-Baqarah: 233)

Ibnu Katsir menafsirkan kalimat : “dengan cara yang baik”
أي: بما جرت به عادة أمثالهن في بلدهنّ من غير إسراف ولا إقتار، بحسب قدرته في
يساره وتوسطه وإقتاره

“Maksudnya besar nafkah sesuai dengan kadar yang berlaku di masyarakat untuk wanita yang setara dengannya, tanpa berlebihan dan tidak kurang dan sesuai kemampuan suami, ketika kaya, tidak kaya, atau kekurangan.” (Tafsir Ibn Katsir, 1:634)

Kedua, Allah melarang semua hamba-Nya untuk mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah dia berikan kepada orang lain. Bahkan Allah menjadikan sikap ini
sebagai pembatal pahala atas kebaikan yang telah dia berikan. Allah
berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ
وَالأذَى

“Wahai orang yang beriman, janganlah kalian membatalkan sedekah kalian dengan al-mannu dan Al-Adza.” (QS. Al-Baqarah: 264)

Al-Mannu : mengungkit-ungkit,
Al-Adza : menyakiti perasaan yang menerima

Ayat ini berbicara tentang sedekah yang sifatnya anjuran, dan tidak wajib.
Allah melarang manusia untuk mengungkit-ungkit sedekah yang telah di- berikan. Tentu saja, ancamannya akan lebih keras lagi jika yang
diungkit-ungkit adalah pemberian yang sifatnya wajib seperti zakat atau nafkah bagi keluarga. Karena harta yang wajib dia berikan kepada orang lain, sejatinya bukan harta dia. Zakat yang menjadi kewajiban seseorang, tidak lagi menjadi miliknya. Demikian pula nafkah yang dia berikan kepada keluarganya, bukan lagi harta miliknya, tapi milik keluarganya.
Lalu dengan alasan apa orang ini mengungkit-ungkit nafkah yang dia berikan kepada keluarganya?
Oleh karena itu, kepada suami yang memiliki perilaku semacam ini, wajib bertaubat kepada Allah. Memohon ampun atas kesalahan besar yang dia lakukan. Dan berusaha untuk tidak menyinggung sedikitpun nafkah yang menjadi kewajibannya.

Semoga Allah tidak menghapus amal baiknya.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel http://www.KonsultasiSyariah.com

Sampingan

Konsultasi Syariah : Hukum Suami Mengungkit Nafkah Istri

5 Mei

Hukum Suami Mengungkit Nafkah Istri.

http://www.konsultasisyariah.com/hukum-suami-mengungkit-nafkah-istri/

Suami Mengungkit Nafkah Istri

Pertanyaan:
Assalamualaikum Ustadz.

Saya mendapat titipan pertanyaan dari teman. Dia menanyakan tentang boleh tidaknya seorang suami mengungkit-ungkit atau menghitung-hitung apa yang telah dia nafkahkan atau berikan kepada anak dan istrinya. Mohon bantuan dari ustadz untuk memberikan referensi semacam tulisan ilmiah lengkap dengan dalilnya atau dalil yang mendukung dalam Alquran dan hadis, karena teman saya meminta demikian, nantinya akan saya sampaikan kepada teman saya yang bertanya tersebut.

Jazakallah.
Dari: Fajar

Jawaban:
Wa’alaikumussalam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Pertama, nafkah keluarga adalah kewajiban suami diberikan kepada istri dan anaknya. Allah berfirman,
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Kewajiban bagi para kepala keluarga untuk memberikan rizki (nafkah) kepada para istrinya dan memberi pakaian mereka dengan cara yang baik.” (QS.
Al-Baqarah: 233)

Ibnu Katsir menafsirkan kalimat : “dengan cara yang baik”
أي: بما جرت به عادة أمثالهن في بلدهنّ من غير إسراف ولا إقتار، بحسب قدرته في
يساره وتوسطه وإقتاره

“Maksudnya besar nafkah sesuai dengan kadar yang berlaku di masyarakat untuk wanita yang setara dengannya, tanpa berlebihan dan tidak kurang dan sesuai kemampuan suami, ketika kaya, tidak kaya, atau kekurangan.” (Tafsir Ibn Katsir, 1:634)

Kedua, Allah melarang semua hamba-Nya untuk mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah dia berikan kepada orang lain. Bahkan Allah menjadikan sikap ini
sebagai pembatal pahala atas kebaikan yang telah dia berikan. Allah
berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ
وَالأذَى

“Wahai orang yang beriman, janganlah kalian membatalkan sedekah kalian dengan al-mannu dan Al-Adza.” (QS. Al-Baqarah: 264)

Al-Mannu : mengungkit-ungkit,
Al-Adza : menyakiti perasaan yang menerima

Ayat ini berbicara tentang sedekah yang sifatnya anjuran, dan tidak wajib.
Allah melarang manusia untuk mengungkit-ungkit sedekah yang telah di- berikan. Tentu saja, ancamannya akan lebih keras lagi jika yang
diungkit-ungkit adalah pemberian yang sifatnya wajib seperti zakat atau nafkah bagi keluarga. Karena harta yang wajib dia berikan kepada orang lain, sejatinya bukan harta dia. Zakat yang menjadi kewajiban seseorang, tidak lagi menjadi miliknya. Demikian pula nafkah yang dia berikan kepada keluarganya, bukan lagi harta miliknya, tapi milik keluarganya.
Lalu dengan alasan apa orang ini mengungkit-ungkit nafkah yang dia berikan kepada keluarganya?
Oleh karena itu, kepada suami yang memiliki perilaku semacam ini, wajib bertaubat kepada Allah. Memohon ampun atas kesalahan besar yang dia lakukan. Dan berusaha untuk tidak menyinggung sedikitpun nafkah yang menjadi kewajibannya.

Semoga Allah tidak menghapus amal baiknya.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel http://www.KonsultasiSyariah.com

Sampingan

TAWAKKAL

5 Mei

Tawakal, Kunci Keberhasilan Yang Sering Dilalaikan
http://muslim.or.id/aqidah/tawakal-kunci-keberhasilan-yang-sering-dilalaikan.html
بسم الله الرحمن الرحيم
Banyak orang yang salah memahami dan menempatkan arti tawakal yang
sesungguhnya. Sehingga tatkala kita mengingatkan mereka tentang pentingnya
tawakal yang benar dalam kehidupan manusia, tidak jarang ada yang menanggapinya dengan ucapan: “Iya, tapi kan bukan cuma tawakal yng harus diperbaiki, usaha yang maksimal juga harus terus dilakukan!”.
Ucapan di atas sepintas tidak salah, akan tetapi kalau kita amati dengan seksama, kita akan dapati bahwa ucapan tersebut menunjukkan kesalahpahaman
banyak orang tentang makna dan kedudukan yang sesungguhnya. Karena ucapan di atas terkesan memisahakan antara tawakal dan usaha. Padahal, menurut
penjelasan para ulama, tawakal adalah bagian dari usaha, bahkan usaha yang paling utama untuk meraih keberhasilan.
Salah seorang ulama salaf berkata: “Cukuplah bagimu untuk melakukan tawassul (sebab yang disyariatkan untuk mendekatkan diri) kepada Allah adalah dengan Dia mengetahui (adanya) tawakal yang benar kepada-Nya dalam hatimu, berapa banyak hamba-Nya yang memasrahkan urusannya kepada-Nya, maka
Diapun mencukupi (semua) keperluan hamba tersebut1.
{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ
لَا يَحْتَسِبُ، وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ}
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya
jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq:2-3).
Artinya, barangsiapa yang percaya kepada Allah dalam menyerahkan (semua) urusan kepada-Nya maka Dia akan mencukupi (segala) keperluannya2.
Maka tawakal yang benar, merupakan sebab utama berhasilnya usaha seorang hamba, baik dalam urusan dunia maupun agama, bahkan sebab kemudahan dari Allah Taala bagi hamba tersebut untuk meraih segala kebaikan dan
perlindungan dari segala keburukan.
Coba renungkan kemuliaan besar ini yang terungkap dalam makna sabda Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam: “Barangsiapa yang ketika keluar rumah membaca (zikir): Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada-Nya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya), maka malaikat akan berkata kepadanya: “(sungguh) kamu telah diberi petunjuk (oleh Allah Taala), dicukupkan (dalam segala keperluanmu) dan dijaga (dari semua keburukan)”, sehingga setanpun tidak bisa mendekatinya, dan setan yang lain berkata kepada temannya: Bagaimana (mungkin) kamu bisa (mencelakakan)
seorang yang telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga (oleh Allah Taala)?”3.
Artinya, diberi petunjuk kepada jalan yang benar dan lurus, diberi
kecukupan dalam semua urusan dunia dan akhirat, serta dijaga dan dilindungi dari segala keburukan dan kejelekan, dari setan atau yang lainnya4.
Imam Ibnul Qayyim berkata: “Tawakkal kepada Allah adalah termasuk sebab yang paling kuat untuk melindungi diri seorang hamba dari gangguan,
kezhaliman dan permusuhan orang lain yang tidak mampu dihadapinya sendiri.
Allah akan memberikan kecukupan kepada orang yang bertawakkal kepada-Nya.
Barangsiapa yang telah diberi kecukupan dan dijaga oleh Allah Taala maka tidak ada harapan bagi musuh-musuhnya untuk bisa mencelakakannya. Bahkan dia tidak akan ditimpa kesusahan kecuali sesuatu yang mesti (dirasakan oleh semua makhluk), seperti panas, dingin, lapar dan dahaga. Adapun gangguan yang diinginkan musuhnya maka selamanya tidak akan menimpanya. Maka (jelas sekali) perbedaan antara gangguan yang secara kasat mata menyakitinya, meskipun pada hakikatnya merupakan kebaikan baginya (untuk menghapuskan dosa-dosanya) dan untuk menundukkan nafsunya, dan gangguan (dari musuh-musuhnya) yang dihilangkan darinya”5.
Tidak terkecuali dalam hal ini, usaha untuk mencari rezki yang halal dan berkah. Seorang hamba yang beriman kepada Allah Taala, dalam usahanya mencari rezki, tentu dia tidak hanya mentargetkan jumlah keuntungan yang besar dan berlipat ganda, tapi lebih dari itu, keberkahan dari rezki
tersebut untuk memudahkannya memanfaatkan rezki tersebut di jalan yang
benar. Dan semua ini hanya bisa dicapai dengan taufik dan kemudahan dari Allah Taala. Maka tentu ini semua tidak mungkin terwujud tanpa adanya
tawakal yang benar dalam hati seorang hamba.
Berdasarkan ini semua, maka merealisasikan tawakal yang hakiki sama sekali tidak bertentangan dengan usaha mencari rezki yang halal, bahkan ketidakmauan melakukan usaha yang halal merupakan pelanggaran terhadap syariat Allah Taala, yang ini justru menyebabkan rusaknya tawakal seseorang kepada Allah.
Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal pada Allah dengan tawakal yang sebenarnya, maka sungguh Dia akan melimpahkan rezki kepada kalian, sebagaimana Dia
melimpahkan rezki kepada burung yang pergi (mencari makan) di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang”6.
Imam al-Munawi ketika menjelaskan makna hadits ini, beliau berkata: “Artinya: burung itu pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali waktu petang dalam keadaan perutnya telah penuh (kenyang). Namun, melakukan usaha (sebab) bukanlah ini yang mendatangkan rezki (dengan sendirinya), karena yang melimpahkan rezki adalah Allah Taala (semata).

Sampingan

Konsultasi Syariah : WARISAN

1 Mei

Cara Menyelesaikan Sengketa Warisan

http://www.konsultasisyariah.com/hak-waris-atas-tanah-dan-rumah/

Menyelesaikan Sengketa Warisan

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selama bapak dan ibu saya menikah, bapak dan ibu saya membeli sebidang tanah. Setelah ibu saya meninggal, bapak saya menikah lagi dan memiliki satu anak perempuan. Bapak membangun sebuah rumah di atas tanah pembelian bersama ibu kandung saya.

Pertanyaan saya apakah ibu tiri dan saudara tiri saya memiliki hak waris
atas rumah yang dibangun di atas tanah yang dibeli bapak dan ibu kandung saya? Sebagai tambahan, saya empat bersaudara satu laki-laki dan tiga perempuan.

Jazakallah khoir

Wassalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh

Dari: Arif

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Dalam menyelesaikan masalah warisan, ada dua wilayah wewenang yang perlu dibedakan:

Pertama, Wilayah fatwa.
Bagian ini hanya menjelaskan pembagian masing-masing ahli waris,
berdasarkan ketentuan yang telah dijelaskan dalam ilmu faraidh/waris. Siapapun yang memahami ilmu waris dan masalah yang diajukan, berhak untuk memberikan jawaban, seperti tokoh agama, atau lembaga fatwa, atau lainnya.

Kedua, Wilayah qadha.
Di wilayah ini akan ditentukan harta apa saja yang harus dibagikan, mana yang menjadi harta warisan, sampai penerapan tuntas pembagian warisan,
seusai yang dijelaskan dalam ilmu waris. Wilayah qadha juga berhak
memutuskan setiap sengketa yang terjadi di antara ahli waris. Satu-satunya yang berhak memasuki wilayah ini adalah instansi pemerintah yang menangani masalah warisan, seperti pengadilan agama.
Kami sebagai salah satu lembaga dakwah di luar struktur pemerintahan, hanya berada pada wilayah fatwa, dan bukan qadha. Sehingga kami tidak bisa menentukan apakah rumah dan tanah itu layak untuk di-statuskan sebagai harta warisan bapak Anda, ataukah tidak. Yang bisa menentukan hal ini adalah pengadilan terkait. Sementara kami hanya bisa menjelaskan pembagian masing-masing ahli waris, berdasarkan ketentuan ilmu faraidh.

Terkait hak masing-masing ahli waris:

Pertama, siapakah ahli waris bapak Anda?
Dari informasi yang anda sampaikan, ahli waris bapak anda:
Istri (ibu tiri anda)
Anak dari istri pertama (Anda dan saudara anda: 1 laki-laki dan 3 perempuan)
Anak dari istri kedua (1 anak perempuan)

Kedua, anak bapak anda memiliki hak warisan yang sederajat. Dalam arti tidak dibedakan antara anak dari istri pertama maupun istri kedua.

Ketiga, aturan pembagian warisannya:
Istri mendapatkan 1/8 dari harta warisan ayah. Berdasarkan firman Allah disurat An-Nisa: ayat 12.
Sisanya (7/8 warisan) diberikan ke anak. Untuk anak laki-laki mendapat
jatah dua kali anak perempuan. berdasarkan firman Allah di surat
An-Nisa:  ayat 11.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel http://www.KonsultasiSyariah.com

Sampingan

Konsultasi Syariah : AQIQAH

29 Apr

Umur Berapa Hari Idealnya Anak Diaqiqahi

http://www.konsultasisyariah.com/umur-berapa-hari-idealnya-anak-diaqiqahi/

Idealnya Anak Diaqiqahi

Pertanyaan:

Assalamualaikum.

Ustadz saya mau bertanya masalah akikah untuk anak yang baru dilahirkan.

1. umur berapa harikah anak wajib di akikahkan setelah dilahirkan?

2. bolehkah daging akikah dimakan/dibagikan kepada tetangga yang non muslim?

3. siapa sajakah yang wajib dimakan/dibagikan daging akikah?

Syukron jazakumullah

Dari: Ahmad

Jawaban:

Wa’alaikumussalam.

Idealnya 7 hari setelah kelahirannya. Boleh diberikan kepada non muslim.

Untuk lebih lanjut Anda bisa melihat artikel terkait:

Hal-hal yang Dilakukan selain Aqiqah.
Waktu Mencukur Rambut Bayi saat Aqiqah.
Akikah Ketika Sudah Dewasa.
Aqiqah untuk Janin Keguguran.

Dijawab oleh Ustadz Aris Munandar, M.PI (Dewan Pembina
KonsultasiSyariah.com)

Artikel http://www.KonsultasiSyariah.com