Sampingan

REFLEKSI ISRA’ MI’RAJ

26 Mei

“Maha Suci Allah yg telah memperjalankan hamba-NYA pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yg telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (Kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS.Al-Isra’ 1).
Allah swt mengisahkan peristiwa agung yg terjadi pada diri Rasulullah saw. Ini adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah hidup Rasulullah saw. Peristiwa diperjalankannya beliau (Isra’) dari Masjidil al-Haram di Makkah menuju Masjid al-Aqsa di Palestina, lalu dilanjutkan dgn perjalanan vertikal (Mi’raj) dari Qubbah As-Sakhrah (terletak sekitar 150 meter dari Masjid al-Aqsa) menuju ke Sidrat al-Muntaha (akhir penggapaian). Peristiwa ini terjadi antara 12-16 bulan sebelum Rasulullah saw diperintahkan untuk melakukan hijrah ke Yatsrib (Madinah).
Lalu pelajaran apa yg dapat kita ambil dari Perjalanan Isra’ wal Mi’raj ini? …
#Pertama » tentunya hal ini merupakan ujian bagi keimanan kita kepada Allah swt dan Rasulullah saw. Bagaimana tidak, kejadian itu sama sekali sulit difahami oleh akal, secara fisik maupun non fisik. Maka, pemahaman terkait kejadian itu harus berlandaskan iman dan tauhid, bukan logika semata. Kalau kita mempercayai ilmu Allah itu luas sekali, sehingga apa yg menurut kita tidak mungkin, itu mungkin saja terjadi, tentunya atas kehendak Allah swt. Kita tidak dapat menjelaskan keseluruhannya secara logika pengetahuan.
#kedua » bahwa seluruh rangkaian kejadian, menjadi bukti ke-Maha Kuasaan Allah swt sekaligus menjadi mukjizat Nabi Muhammad saw yg sungguh luar biasa. Tuktil mulka mimantasyaa-u, Allah akan memberikan kekuasaan kepada orang yg Allah Kehendaki, dan Allah akan mencabut kekuasaan dari yg Allah kehendaki.
Setiap ketetapan Allah pasti mengandung nilai-nilai kebaikan kita semua. Hanya saja kebaikan itu ada yg bisa dilihat sekarang dan ada yg nanti.
#ketiga » meneladani figur beliau sebagai seorang mujahid fi sabilillah. Perjalanan suci beliau semata-mata untuk meneguhkan pribadinya sebagai seorang pejuang murni di jalan Allah swt. Meneladani pribadi beliau pada aspek ini, akan menjadikan kita memiliki jiwa seorang mujahid, seorang yg hanya memiliki semangat membangun hidup untuk menolong dan meluhurkan agama-Nya dimuka bumi ini.
#keempat » meneladani kualitas iman Rasul sebagai figur manusia yg memiliki keimanan sempurna. Peristiwa Isra’ Mi’raj akan memiliki makna penting, jika dengan sekuat kemampuan kita, senantiasa kita berusaha untuk semakin meneguhkan keimanan kita kpd Allah swt. Itulah sebabnya sentral ajaran yg dibawah oleh Nabi bermuara pada pernyataan tauhid ‘laillaaha illa Allah’. Hanya dengan menjaga dan memelihara iman yg ada didlm dada kita, nama harum dihadapan Allah swt mampu kita raih. Allah menegaskan, bahwa hanya orang yg istiqomah dalam keimanannya saja yg mampu mendapatkan pertolongan dan kasih sayangNYA. (QS.An-Nisa’:137).
Peristiwa perjalanan suci Rasul bisa kita pakai untuk menyikapi kondisi keimanan kita yg bolak balik seperti digambarkan dalam (QS.An-Niss’:137), sehingga dgn momen itu kita bisa memperteguhkan diri untuk selalu istiqomah dlm keimanan kepada-NYA.
#kelima » mengambil misi dan perolehan Rasul dalam peristiwa itu, yakni perintah Allah mendirikan Sholat lima waktu. Dan sholat ini pulalah yg merupakan inti dari peristiwa Isra’ wa Mi’raj ini, karena sholat pada hakekatnya merupakan kebutuhan mutlak untuk mewujudkan manusia seutuhnya, kebutuhan akal pikiran dan jiwa manusia, sebagaimana ia merupakan kebutuhan untuk mewujudkan masyarakat yg diharapkan oleh manusia seutuhnya. Sholat dibutuhkan oleh pikiran dan akal manusia, karena ia merupakan pengejawantahan dari hubungannya dengan Tuhan, hubungan yg menggambarkan pengetahuannya tentang tata kerja alam ini, yg berjalan dibawah satu kesatuan sistem. Sholat juga menggambarkan tata intelegensia semesta yg total, yg sepenuhnya diawasi dan dikendalikan oleh suatu kekuatan Yang Mahadahsyat dan Maha Mengetahui, Tuhan Yang Mahaesa. Dan bila demikian, maka tidaklah keliru bila dikatakan bahwa semakin mendalam pengetahuan seseorang tentang tata kerja alam raya ini, akan semakin tekun dan khusu’ pula ia melaksanakan sholatnya. Sholat juga merupakan kebutuhan jiwa, karena, tidak seorangpun dlm perjalanan hidupnya yg tidak pernah berharap atau merasa cemas. Hingga pd akhirnya, sadar atau tidak, ia menyampaikan harapan dan keluhannya kpd Dia Yang Mahakuasa. Dan tentunya merupakan tanda kebejatan akhlaq dan kerendahan moral, apabila seseorang datang menghadapkan dirinya kpd Tuhan hanya pd saat dirinya didesak oleh kebutuhannya. Sholat juga dibutuhkan oleh masyarakat manusia, karena sholat, dlm pengertiannya yg luas merupakan dasar-dasar pembangunan.
Tujuan sholat adalah untuk memupuk dan menggembleng jiwa ummat menjadi luhur, agar bisa memiliki jiwa yg besar, ‘sabda Rasul : tidaklah seorang muslim yg sujud kpd Allah satu kali sujud, melainkan akan mengangkat derajatnya pada satu derajat tertentu, dan mengampuni dosanya. (HR.Muslim)’.
‘Raut mukanya ada tanda-tanda bekas bersujud (bercahaya dan berseri-seri), (QS.Al-Fath:29)’.
Demikianlah semoga kita bisa memetik dari peristiwa Isra’ wa Mi’raj, dan semoga kita digolongkan oleh Allah swt. Kapada 4 golongan manusia yg memperoleh barakah dan ridhoNya, sebagaimana yg telah dijanjikanNya (QS.An-Nisa’:69).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: