Arsip | Mei, 2013
Sampingan

Dosa-dosa Besar

14 Mei

Kumpulan Dosa-dosa Besar Volume 1

http://feedproxy.google.com/~r/rodja756am/~3/m3l9FMo8MlE/?utm_source=feedburner&utm_medium=email

Alhamdulillah kami bisa menghadirkan kepada anda dari kajian Kumpulan Dosa-dosa Besar dan Perkara-perkara yang Allah Haramkan dimana kajian ini diasuh oleh Ustadz Mahfudz Umri, Lc yang diselenggarakan secara live di radio rodja dari Masjid Al Barkah Cileungsi setiap hari selasa bada maghrib. Semoga bermanfaat.
Playlist

Download

Download kajian [8.97 MB]: Kumpulan Dosa-dosa besar – Macam-macam Dosa-dosa Besar (a) (49)
Download kajian [4.7 MB]: Kumpulan Dosa-dosa besar – Macam-macam Dosa-dosa Besar (b) (27)
Download kajian [7.39 MB]: Kumpulan Dosa-dosa Besar – Fitnah (27)
Download kajian [8.3 MB]: Kumpulan Dosa-dosa Besar – Kesyirikan (29)
Download kajian [12.21 MB]: Kumpulan Dosa-dosa Besar – Kesyirikan dalam Uluhiyah (26)
Download kajian []: Kumpulan Dosa-dosa Besar – Definisi Syrik Besar (30)
Download kajian []: Kumpulan Dosa-dosa Besar – Macam-macam syirik besar (26)
Download kajian []: Kumpulan Dosa-dosa Besar – Kesyirikan dalam kecintaan (27)
Download kajian []: Kumpulan Dosa-dosa Besar – Kesyirikan dalam pengharapan (32)
Download kajian []: Kumpulan Dosa-dosa Besar – Sumpah (25)
Download kajian [14.62 MB]: Kumpulan Dosa-dosa Besar – Macam-macam syirik kecil (22)
Download kajian [10.02 MB]: Kumpulan Dosa-dosa Besar – Membunuh jiwa 01 (19)
Download kajian [8.22 MB]: Kumpulan Dosa-dosa Besar – Membunuh jiwa 02 (23)
Download kajian [12.26 MB]: Kumpulan Dosa-dosa Besar – Bahayanya riba (26)
Download kajian [10.64 MB]: Kumpulan Dosa-dosa Besar – Lari dari medan perang (24)
Download kajian [13.68 MB]: Kumpulan Dosa-dosa Besar – Menuduh berzina (18)
Download kajian [7.77 MB]: Kumpulan Dosa-dosa Besar – Durhaka kepada orang tua 01 (a) (19)
Download kajian [6.15 MB]: Kumpulan Dosa-dosa Besar – Durhaka kepada orang tua 01 (b) (21)
Download kajian [18.72 MB]: Kumpulan Dosa-dosa Besar – Durhaka kepada orang tua 02 (19)

Sampingan

Konsultasi Syariah : Haramkah Ramalan Cuaca? …

11 Mei

Ramalan Cuaca Haram?

http://www.konsultasisyariah.com/ramalan-cuaca-haram/

Hukum Meyakini Ramalan Cuaca

Pertanyaan:

Assalamualaykum,
ustad terkadang saya merasa bingung dengan fenomena ramalan. Kan memang aturan dalam islam percaya pada ramalan itu dosa dan diharamkan, apakah sama hukumnya dengan ramalan yang berkaitan kasus ramalan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan gerhana matahari cincin
(GMC) akan terjadi pada 9-10 Mei 2013 atau ramalan cuaca setiap hari??
mohon penjelasannya jazakallah
Dari: Puji, Surabaya

Jawaban:

Wa alaikumus salam
Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Salah satu diantara sebab kesalah-pahaman dalam membaca adalah kurang bisa memahami istilah. Terlebih istilah yang ambigu. Sebagian orang memahami sesuatu istilah tidak sebagaimana konteksnya. Salah satu contohnya adalah ramalan. Bisa kita nyatakan, kata ini termasuk ambigu. Bisa digunakan dalam banyak kalimat dengan konteks yang berbeda. Seperti ramalan cuaca dan ramalan paranormal, jelas konteksnya berbeda. Karena masing-masing
disimpulkan dari cara yang berbeda.

Terkait hukum ramalan cuaca, Imam Ibnu Utaimin memberikan beberapa catatan yang perlu digaris bawahi,
Pertama, Rincian keterangan tentang turunnya hujan termasuk ilmu ghaib (informasi yang hanya diketahui oleh Allah). Allah berfirman,
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ
مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا
تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

“Sesungguhnya Allah, hanya miliknya informasi kapan kiamat, dia yang menurunkan hujan, dan dia mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Tidaklah satupun jiwa mengetahui apa yang akan dia lakukan besok, dan tidak ada satupun jiwa dimana dia akan mati..” (QS. Luqman: 34)

Untuk itu, siapa yang mengklaim mengetahui hal yang ghaib, termasuk mengaku mengetahui kapan hujan turun, berapa jumlahnya, dst. maka dia telah
melakukan perbuatan kekafiran, karena mendustakan firman Allah,
قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Katakanlah, tidak ada satupun di langit dan dibumi yang mengetahui hal ghaib, kecuali Allah. (QS. An-Naml: 65).

Kedua, Menggunakan Indikator lahiriyah, bukan termasuk menebak ilmu ghaib

Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,
وأما من أخبر بنزول مطر أو توقع نزول مطر في المستقبل بناءً على ما تقتضيه
الآلات الدقيقة التي تقاس بها أحوال الجو فيعلم الخبيرون بذلك أن الجو مهيأ
لسقوط الأمطار فإن هذا ليس من علم الغيب بل هو مستند إلى أمر محسوس والشيء
المستند إلى أمر محسوس لا يقال إنه من علم الغيب

Menyampaikan informasi tentang turunnya hujan atau perkiraan turunnya hujan pada beberapa waktu berikutnya, berdasarkan hasil penelitian dengan alat canggih, untuk memprediksi kondisi cuaca, sehingga ahli meteorologi bisa
menyimpulkan bahwa cuaca mengarah pada turunnya hujan. Informasi semacam ini, tidak termasuk ilmu ghaib. Namun dia mengacu pada indikator lahiriyah.
Dan semua kesimpulan yang mengacu pada indikator lahiriyah, tidak bisa disebut bahwa itu ilmu ghaib.

Beliau melanjutkan,
والتنبؤات التي تقال في الإذاعات من هذا الباب وليست من باب علم الغيب ولذلك
هم يستنتجونها بواسطة الآلات الدقيقة التي تضبط حالات الجو وليسوا مثلاً
يخبرونك بأنه سينزل مطر بعد كذا سنة وبمقدار معين لأن هذه الوسائل الآلات لم
تصل بعد إلى حدٍ تدرك به ماذا يكون من حوادث الجو بل هي محصورة في ساعات معينة
ثم قد تخطئ أحياناً وقد تصيب أما علم الغيب فهو الذي يستند إلى مجرد العلم فقط
بدون وسيلة محسوسة وهذا لا يعلمه إلا الله عز وجل

Informasi yang disampaikan di radio tentang perkiraan cuaca bukan termasuk
mengetahui ilmu ghaib. Karena itulah, mereka hanya bisa mendapatkan info tentang prediksi cuaca, dengan alat canggih yang bisa mengukur kondisi cuaca. Mereka juga tidak mampu, misalnya memberitahukan akan turun hujan setelah sekian tahun dengan curah tertentu. Karena alat yang mereka gunakan tidak mampu menjangkau keadaan yang bisa mengetahui semua kondisi cuaca.
Alat ini hanya terbatas untuk waktu tertentu. Itupun kadang meleset,
meskipun kadang juga benar. Adapun ilmu ghaib adalah mengetahui sesuatu yang ghaib yang bersandar pada pengetahuan yang dimiliki, tanpa menggunakan
indikator lahiriyah. Dan semacam ini tidak ada yang tahu kecuali Allah.

Sumber: http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_1716.shtml

Untuk itu, mungkin istilah yang lebih tepat, agar tidak menimbulkan
kesalah-pahaman, prakiraan cuaca atau prediksi cuaca, dan bukan ramalan cuaca. Karena realita yang ada, BMG hanya menyampaikan prediksi, sehingga orang bisa merencanakan agenda aktivitasnya. BMG tidak pernah memaksakan
orang lain untuk membenarkan informasi yang dia sampaikan. Karena mereka memahami, itu hanya prediksi.
Nuansa ini jelas berbeda dengan ramalan dukun, yang dilakukan tanpa
menggunakan indikator lahiriyah apapun, dan oleh pengikutnya dipercaya sampai pada tingkat yakin, tanpa interupsi. Kasus kedua inilah yang bermasalah, dan bahkan termasuk perbuatan kekafiran.

Allahu a’lam

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina http://www.KonsultasiSyariah.com)

Sampingan

Download

6 Mei

Sirah Nabawiyah Volume 3

http://feedproxy.google.com/~r/rodja756am/~3/HEHICna7F4I/?utm_source=feedburner&utm_medium=email

Alhamdulillah, kami bisa menghadirkan kepada anda Volume 3 dari kajian Sirah Nabawiyah yang diasuh oleh Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja MA yang diselenggarakan setiap hari sabtu siang. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan untuk kita semua dan semoga kajian ini bermanfaat.

Playlist

Download

Download kajian [9.54 MB]: Sirah Nabawiyah – Perang Badar 01 (15)
Download kajian [15.28 MB]: Sirah Nabawiyah – Perang Badar 02 (9)
Download kajian [9.51 MB]: Sirah Nabawiyah – Perang Badar 03 (6)
Download kajian [14.12 MB]: Sirah Nabawiyah – Perang Badar 04 (6)
Download kajian [12.96 MB]: Sirah Nabawiyah – Perang Badar 05 (7)
Download kajian [10.32 MB]: Sirah Nabawiyah – Perang Badar 06 (6)
Download kajian [13.61 MB]: Sirah Nabawiyah – Perang Uhud 01 (5)
Download kajian [12.51 MB]: Sirah Nabawiyah – Perang Uhud 02 (5)
Download kajian [14.49 MB]: Sirah Nabawiyah – Perang Uhud 03 (5)
Download kajian [13.66 MB]: Sirah Nabawiyah – Perang Uhud 04 (5)
Download kajian [13.07 MB]: Sirah Nabawiyah – Pengusiran Bani Nadzir (6)
Download kajian [10.44 MB]: Sirah Nabawiyah – Pengusiran Bani Nadzir dan Perang Dzaturiqqa (5)
Download kajian [13.59 MB]: Sirah Nabawiyah – Perang Ahzab (5)
Download kajian [4.14 MB]: Sirah Nabawiyah – Penyerangan terhadap Bani Quraidzah 01 (5)
Download kajian [2.56 MB]: Sirah Nabawiyah – Penyerangan terhadap Bani Quraidzah 02 (6)

Sampingan

Caleg Non Muslim

5 Mei

Memilih Caleg Non Muslim
http://muslim.or.id/manhaj/memilih-caleg-non-muslim.html

Kita sudah mengenal bagaimana semboyan dalam politik, “Tak ada teman abadi.
Tak ada musuh abadi. Yang ada hanya kepentingan abadi.” Dan kita dengar belakangan ini, beberapa partai Islam dan yang katanya memperjuangkan Islam
mulai memasukkan nama caleg mereka termasuk pula caleg non-muslim. Bahkan ada pula partai yang terkenal membela Islam memasukkan pula caleg “pendeta”. Lepas dari sistem demokrasi yang jelas bermasalah karena orang bodoh dan orang pintar disamakan, ahli maksiat dan seorang kyai pun
suaranya sama dalam sistem ini, yang sekarang kita persoalkan adalah bolehkah memilih caleg dari kalangan non-muslim, apalagi seorang pendeta.
Berikut Fatwa no. 7796, Soal no. 3 dari Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia)
س3: هل يجوز للمسلم أن يدلي بصوته في الانتخابات، وهل يجوز إدلاء صوته لصالح
الكفار.
ج3: لا يجوز التصويت من المسلمين لصالح الكفار؛ لأن في ذلك رفعة لهم، وإعزازا
لشأنهم، وسبيلا لهم على المسلمين، وقد قال الله تعالى: { وَلَنْ يَجْعَلَ
اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا } (1)
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم.
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … نائب رئيس اللجنة … الرئيس
عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد الرزاق عفيفي … عبد العزيز بن عبد
الله بن باز

Soal:
Apakah boleh bagi seorang muslim memberikan suara (baca: nyoblos) dalam pemilu? Apakah boleh memberikan suara kepada caleg non-muslim (yang kafir)?

Jawab:
Kaum muslimin tidak boleh memberikan suara kepada calon non muslim.
Tindakan tersebut berarti memuliakan dan meninggikan posisi orang kafir serta memberi jalan bagi orang kafir agar bisa menguasai kaum muslimin.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisa’: 141)

Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga shalawat dan salam dari Allah tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
[Fatwa ini ditandatangani oleh Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud dan Syaikh
‘Abdullah bin Ghudayan selaku anggota, Syaikh ‘Abdur Rozaq ‘Afifi selaku wakil ketua, dan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz sebagai ketua]

Ada yang berdalil dengan kesahan memilih caleg non-muslim dengan hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, dimana ia bercerita,
وَاسْتَأْجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَبُو
بَكْرٍ رَجُلًا مِنْ بَنِي الدِّيلِ هَادِيًا خِرِّيتًا، وَهُوَ عَلَى دِينِ
كُفَّارِ قُرَيْشٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar mengupah seorang laki-laki dari Bani Ad Diil sebagai petunjuk jalan, dan dia adalah seorang
beragama kafir Quraisy. (HR. Bukhari no. 2264).

Ini memang menjadi dalil para ulama akan bolehnya mempekerjakan orang kafir. Namun pembolehannya dengan syarat:
Orang kafir tidak memiliki kekuasaan menguasai kaum muslimin Orang kafir tidak merasa diatas kaum muslimin.
Jadi sah-sah saja jika mempekerjakan orang kafir di pabrik atau untuk proyek pembangunan. Sebagaimana Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bekerjasama dalam mudhorobah (usaha bagi hasil) untuk mengurus tanaman dengan seorang Yahudi dari Khoibar. Yahudi tersebut lalu mendapatkan separuh dari hasil panen. Adapun jika mempekerjakan non-muslim lantas mereka memiliki kekuasaan pada kaum muslimin atau mereka bisa mengorek berita-berita kaum muslimin, maka seperti ini tidak dibolehkan.
Lihat Tadzhib Tashil Al ‘Aqidah Al Islamiyah, hal. 238, karya Syaikh
‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Jibrin.

Jika kita melihat kembali hadits Bukhari yang disebutkan di atas,
diterangkan bahwa non-muslim tersebut bertindak sebagai penunjuk jalan saja, bukan ingin memperjuangkan Islam. Itu pun termasuk bentuk tolong menolong yang mubah selama syarat di atas yang kami sebutkan terpenuhi.
Sedangkan dalam hal Pemilu, jika caleg non-muslim yang dipilih, maka mustahil ia bisa memperjuangkan Islam di negeri minoritas muslim. Jika yang muslim saja tidak bisa memperjuangkan dakwah Islam di negeri minoritas, bagaimana sampai mengharap dari non-muslim? Apa jika caleg non-muslim terpilih bisa mengajak masyarakat muslim untuk shalat dan menunaikan kewajiban yang lain? Lebih aneh lagi jika yang jadi caleg adalah seorang pendeta dan ia disuruh menyuarakan Islam. Padahal kita tahu sendiri bahwa pendeta itulah yang paling benci pada Islam. Lantas bagaimana bisa jadi penolong atau mau dianalogikan dengan penunjuk jalan di atas?!

Ditambah lagi jika kita kembali di awal dengan mengkritik sistem demokrasi yang jelas menyelisihi prinsip Islam. Dan tidak pernah di negeri kita ini dijumpai partai yang memperjuangkan Islam dengan masuk Parlemen bisa berhasil menegakkan syari’at Islam di tanah air. Bagaimana mungkin para kyai bisa mengalahkan para preman lewat sistem demokrasi yang menghalalkan segala cara?!
Yang bisa menyadari hal ini jika ia masih membuka hati dan menerima kebenaran.
Hanya Allah yang memberi hidayah dan taufik.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id

Sampingan

Donwload Kajian

5 Mei

Mukhtashor Minhajul Qosidin Volume 6

http://feedproxy.google.com/~r/rodja756am/~3/ilJkOvvzRCk/?utm_source=feedburner&utm_medium=email

Alhamdulillah kami bisa menghadirkan kajian dari Mukhtashor Minhajul Qosidin Volume 6 yang diasuh oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc yang dikaji setiap hari senin bada Shubuh. Semoga kajian ini bermanfaat.
Playlist

Download

Download kajian [13.7 MB]: Mukhtashor Minhajul Qosidin – Kelezatan Yang Paling Tinggi Adalah Mengenal Allah (8)
Download kajian [12.57 MB]: Mukhtashor Minhajul Qosidin – Sebab-sebab Yang Menyebabkan Cinta Kita Kepada Allah Semakin Kuat (9)
Download kajian [14.43 MB]: Mukhtashor Minhajul Qosidin – Sebab Perbedaan Manusia Dalam Mencintai Allah (7)
Download kajian [17.11 MB]: Mukhtashor Minhajul Qosidin – Tanda Kecintaan Allah 01 (8)
Download kajian [14.52 MB]: Mukhtashor Minhajul Qosidin – Tanda Kecintaan Allah 02 (9)
Download kajian [14.82 MB]: Mukhtashor Minhajul Qosidin – Niat, Ikhlas dan Jujur 01 (6)
Download kajian [15.3 MB]: Mukhtashor Minhajul Qosidin – Niat, Ikhlas dan Jujur 02 (7)
Download kajian [15.96 MB]: Mukhtashor Minhajul Qosidin – Niat, Ikhlas dan Jujur 03 (7)
Download kajian [16.41 MB]: Mukhtashor Minhajul Qosidin – Muhasabah dan Muqarabah 01 (13)
Download kajian [15.88 MB]: Mukhtashor Minhajul Qosidin – Muhasabah dan Muqarabah 02 (6)
Download kajian [15.09 MB]: Mukhtashor Minhajul Qosidin – Muhasabah dan Muqarabah 03 (6)
Download kajian [16.45 MB]: Mukhtashor Minhajul Qosidin – Muhasabah dan Muqarabah 04 (7)
Download kajian [14.22 MB]: Mukhtashor Minhajul Qosidin – Mengingat Kematian 01 (8)
Download kajian [16.76 MB]: Mukhtashor Minhajul Qosidin – Mengingat Kematian 02 (9)
Download kajian [14.98 MB]: Mukhtashor Minhajul Qosidin – Mengingat Kematian 03 (10)

Sampingan

Konsultasi Syariah : Hukum Suami Mengungkit Nafkah Istri

5 Mei

Hukum Suami Mengungkit Nafkah Istri.

http://www.konsultasisyariah.com/hukum-suami-mengungkit-nafkah-istri/

Suami Mengungkit Nafkah Istri

Pertanyaan:
Assalamualaikum Ustadz.

Saya mendapat titipan pertanyaan dari teman. Dia menanyakan tentang boleh tidaknya seorang suami mengungkit-ungkit atau menghitung-hitung apa yang telah dia nafkahkan atau berikan kepada anak dan istrinya. Mohon bantuan dari ustadz untuk memberikan referensi semacam tulisan ilmiah lengkap dengan dalilnya atau dalil yang mendukung dalam Alquran dan hadis, karena teman saya meminta demikian, nantinya akan saya sampaikan kepada teman saya yang bertanya tersebut.

Jazakallah.
Dari: Fajar

Jawaban:
Wa’alaikumussalam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Pertama, nafkah keluarga adalah kewajiban suami diberikan kepada istri dan anaknya. Allah berfirman,
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Kewajiban bagi para kepala keluarga untuk memberikan rizki (nafkah) kepada para istrinya dan memberi pakaian mereka dengan cara yang baik.” (QS.
Al-Baqarah: 233)

Ibnu Katsir menafsirkan kalimat : “dengan cara yang baik”
أي: بما جرت به عادة أمثالهن في بلدهنّ من غير إسراف ولا إقتار، بحسب قدرته في
يساره وتوسطه وإقتاره

“Maksudnya besar nafkah sesuai dengan kadar yang berlaku di masyarakat untuk wanita yang setara dengannya, tanpa berlebihan dan tidak kurang dan sesuai kemampuan suami, ketika kaya, tidak kaya, atau kekurangan.” (Tafsir Ibn Katsir, 1:634)

Kedua, Allah melarang semua hamba-Nya untuk mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah dia berikan kepada orang lain. Bahkan Allah menjadikan sikap ini
sebagai pembatal pahala atas kebaikan yang telah dia berikan. Allah
berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ
وَالأذَى

“Wahai orang yang beriman, janganlah kalian membatalkan sedekah kalian dengan al-mannu dan Al-Adza.” (QS. Al-Baqarah: 264)

Al-Mannu : mengungkit-ungkit,
Al-Adza : menyakiti perasaan yang menerima

Ayat ini berbicara tentang sedekah yang sifatnya anjuran, dan tidak wajib.
Allah melarang manusia untuk mengungkit-ungkit sedekah yang telah di- berikan. Tentu saja, ancamannya akan lebih keras lagi jika yang
diungkit-ungkit adalah pemberian yang sifatnya wajib seperti zakat atau nafkah bagi keluarga. Karena harta yang wajib dia berikan kepada orang lain, sejatinya bukan harta dia. Zakat yang menjadi kewajiban seseorang, tidak lagi menjadi miliknya. Demikian pula nafkah yang dia berikan kepada keluarganya, bukan lagi harta miliknya, tapi milik keluarganya.
Lalu dengan alasan apa orang ini mengungkit-ungkit nafkah yang dia berikan kepada keluarganya?
Oleh karena itu, kepada suami yang memiliki perilaku semacam ini, wajib bertaubat kepada Allah. Memohon ampun atas kesalahan besar yang dia lakukan. Dan berusaha untuk tidak menyinggung sedikitpun nafkah yang menjadi kewajibannya.

Semoga Allah tidak menghapus amal baiknya.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel http://www.KonsultasiSyariah.com

Sampingan

Konsultasi Syariah : Hukum Suami Mengungkit Nafkah Istri

5 Mei

Hukum Suami Mengungkit Nafkah Istri.

http://www.konsultasisyariah.com/hukum-suami-mengungkit-nafkah-istri/

Suami Mengungkit Nafkah Istri

Pertanyaan:
Assalamualaikum Ustadz.

Saya mendapat titipan pertanyaan dari teman. Dia menanyakan tentang boleh tidaknya seorang suami mengungkit-ungkit atau menghitung-hitung apa yang telah dia nafkahkan atau berikan kepada anak dan istrinya. Mohon bantuan dari ustadz untuk memberikan referensi semacam tulisan ilmiah lengkap dengan dalilnya atau dalil yang mendukung dalam Alquran dan hadis, karena teman saya meminta demikian, nantinya akan saya sampaikan kepada teman saya yang bertanya tersebut.

Jazakallah.
Dari: Fajar

Jawaban:
Wa’alaikumussalam

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Pertama, nafkah keluarga adalah kewajiban suami diberikan kepada istri dan anaknya. Allah berfirman,
وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Kewajiban bagi para kepala keluarga untuk memberikan rizki (nafkah) kepada para istrinya dan memberi pakaian mereka dengan cara yang baik.” (QS.
Al-Baqarah: 233)

Ibnu Katsir menafsirkan kalimat : “dengan cara yang baik”
أي: بما جرت به عادة أمثالهن في بلدهنّ من غير إسراف ولا إقتار، بحسب قدرته في
يساره وتوسطه وإقتاره

“Maksudnya besar nafkah sesuai dengan kadar yang berlaku di masyarakat untuk wanita yang setara dengannya, tanpa berlebihan dan tidak kurang dan sesuai kemampuan suami, ketika kaya, tidak kaya, atau kekurangan.” (Tafsir Ibn Katsir, 1:634)

Kedua, Allah melarang semua hamba-Nya untuk mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah dia berikan kepada orang lain. Bahkan Allah menjadikan sikap ini
sebagai pembatal pahala atas kebaikan yang telah dia berikan. Allah
berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُبْطِلُواْ صَدَقَاتِكُم بِالْمَنِّ
وَالأذَى

“Wahai orang yang beriman, janganlah kalian membatalkan sedekah kalian dengan al-mannu dan Al-Adza.” (QS. Al-Baqarah: 264)

Al-Mannu : mengungkit-ungkit,
Al-Adza : menyakiti perasaan yang menerima

Ayat ini berbicara tentang sedekah yang sifatnya anjuran, dan tidak wajib.
Allah melarang manusia untuk mengungkit-ungkit sedekah yang telah di- berikan. Tentu saja, ancamannya akan lebih keras lagi jika yang
diungkit-ungkit adalah pemberian yang sifatnya wajib seperti zakat atau nafkah bagi keluarga. Karena harta yang wajib dia berikan kepada orang lain, sejatinya bukan harta dia. Zakat yang menjadi kewajiban seseorang, tidak lagi menjadi miliknya. Demikian pula nafkah yang dia berikan kepada keluarganya, bukan lagi harta miliknya, tapi milik keluarganya.
Lalu dengan alasan apa orang ini mengungkit-ungkit nafkah yang dia berikan kepada keluarganya?
Oleh karena itu, kepada suami yang memiliki perilaku semacam ini, wajib bertaubat kepada Allah. Memohon ampun atas kesalahan besar yang dia lakukan. Dan berusaha untuk tidak menyinggung sedikitpun nafkah yang menjadi kewajibannya.

Semoga Allah tidak menghapus amal baiknya.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina KonsultasiSyariah.com)

Artikel http://www.KonsultasiSyariah.com